Selasa, 13 November 2007

Musik adalah Pembawa Kabar Perdamaian

Musik adalah Pembawa Kabar Perdamaian
oleh Cesar Chelala
07 September 2007
Cetak
Email
New York – Para pemimpin politik dan agama sedang mencari bantuan bagi upaya-upaya penciptaan perdamaian mereka dari sumber yang tidak disangka-disangka: para pemusik kontemporer. Sebuah orkestra antaragama yang terdiri atas para pemusik Yahudi, Muslim, dan Katolik belum lama ini dibentuk di Argentina, yang pertama di negara tersebut. Ia terwujud sebagai hasil dari upaya bersama pendeta Katolik, Fernando Giannetti, Rabbi Sergio Bergman, dan presiden Argentine Islamic Center, Sumir Noufouri. Gagasan utama mereka adalah untuk bekerja bersama sambil menghormati keragaman pendapat mereka.

Konduktor orkestra antaragama Argentina tersebut adalah Luis Gorelik, seorang pemusik Argentina dengan karir internasional terkemuka. Melalui karya mereka, baik direktur maupun para pemusiknya ingin memperlihatkan bahwa kolaborasi dapat berlangsung di antara orang-orang dengan keyakinan agama berbeda-beda. Orkestra tersebut bernama Armon?as (Harmonies), dan terdiri atas 34 pemusik dari beberapa propinsi Argentina. Di masa depan, Gorelik berkeinginan untuk mengikutsertakan para pemusik dari negara-negara Amerika Latin lainnya.

Orkestra Armon?as mengikuti jejak dua pemusik lain yang bekerja demi perdamaian di Timur Tengah: Daniel Barenboim dan Miguel Angel Estrella. Bersama dengan mantan cendikiawan Palestina Edward Said, Barenboim menciptakan Diva Barat-Timur (dinamakan seperti judul antologi puisi karya Goethe), sebuah orkestra yang terdiri atas para pemusik muda yang berasal dari Israel dan Palestina. Orkestra tersebut telah tampil di seluruh dunia dan Barenboim telah memberikan resital-resital piano dan kelas-kelas musik di Palestina.

Miguel Angel Estrella, seorang pianis Argentina dan saat ini merupakan Duta Besar Argentina bagi UNESCO, merupakan pendiri Musique Esperance, sebuah kelompok yang memajukan perdamaian dan keadilan melalui musik. Estrella telah mendirikan Orkestra bagi Perdamaian, yang terdiri atas para pemusik Israel dan Arab dari Israel, Maroko, Tunisia, Mesir, Yordania, Irak, Suriah, dan Palestina. Ia menyatakan, "Jika kita dapat menciptakan sebuah humanisme baru, kita akan lebih dihargai anak-anak kita dan kaum muda dewasa ini."

Saya bertanya kepada Estrella, seorang kawan sejak masa muda saya, apa yang mendorongnya mendirikan orkestra seperti itu. Ia mengatakan kepada saya bahwa hal tersebut terjadi setelah sebuah kunjungan ke penampungan pengungsi di Gaza, yang katanya merupakan tempat "Saya (Estrella) menyaksikan hal-hal paling menyedihkan dalam hidup saya." Ia juga mengunjungi sebuah desa tempat umat Druze, Muslim dan Kristen hidup bersama dalam kerukunan sempurna. Ia bertanya kepada seorang penduduk desa apa yang memungkinkan hal tersebut terjadi, dan penduduk desa tersebut mengatakan kepadanya, "Tentu saja ini mungkin; biar bagaimana, kita semua adalah anak-cucu Ibrahim."

Ketika ia kembali ke Paris, tempat ia tinggal, Estrella memiliki gagasan untuk menciptakan sebuah orkestra dengan orang-orang berlatar agama berbeda. Namun, ketika ia menyebutkan gagasannya kepada rabbi Yahudi, Katolik, atau Muslim, mereka semua mencoba untuk menyurutkan niatnya, dengan mengatakan bahwa itu adalah mimpi di siang bolong. Presiden Prancis waktu itu, Francois Mitterand, bahkan sampai mengatakan kepada Estrella bahwa hidupnya akan terancam bahaya jika ia meneruskan gagasan ini.

"Semakin mereka mengatakan kepada saya bahwa hal tersebut tidak mungkin untuk dilakukan," kata Estrella kepada saya, "Semakin bulat tekad saya untuk mewujudkannya." Akhirnya, ia dapat menciptakan sebuah orkestra dengan bantuan orang-orang dari berbagai latar belakang dan keyakinan. "Sekarang kami bermain di mana pun kami dapat mengumpulkan uang untuk membayar pengeluaran-pengeluaran karena butuh biaya sangat besar untuk mengumpulkan orang-orang dari berbagai negara," kata Estrella, "tetapi saya berusaha sebaik mungkin untuk membantu mereka karena mereka sangat ingin bermain bersama."

Dapatkah sebuah kelompok musik menjadi contoh bagi kerjasama di kalangan orang-orang dengan agama-agama berbeda?

Saya percaya itu dapat terjadi. Ketika tindakan-tindakan para politikus sering kelihatannya meningkatkan perpecahan di antara kelompok-kelompok keagamaan, karya para pemusik ini memberi sumbangan untuk menutup jarak itu. Karya mereka dengan efektif menyatukan kerinduan-kerinduan orang akan perdamaian dengan kecintaan para penikmatnya terhadap musik.

Mungkin melalui upaya-upaya sipil, khususnya musik, kita dapat meraih tingkat pengertian dan kerjasama yang akhirnya dapat mengurangi kekerasan dalam dunia. Dengan memperbanyak orkestra-orkestra yang memajukan perdamaian, dengan menggembleng tindakan orang yang haus akan perdamaian, rakyat jelata dapat memperlihatkan pada para pedagang perang bahwa musik dan kerjasama dapat mengalahkan kehancuran dan kematian.